Gao Qian yang tidak dapat mengenai pemuda di depannya, mengepalkan tangannya. Ia sudah mencapai Master Foundation Emas! Tidak mungkin pemuda di depannya bisa bertahan melawannya!

"Mustahil, dia hanya forging qi tingkat satu, kalaupun dia menyembunyikan kekuatannya, tidak mungkin ada artefak yang dapat menyembunyikan tingkatannya sejauh itu." batin Gao Qian yang merasa frustasi. "Mungkinkah artefak tingkat surgawi? Tapi tidak mungkin, artefak tingkat raja saja sudah susah menemukannya."

Gao Qian mulai menghubungkan keanehan kekuatan Lynx dengan artefak yang dapat menyembunyikan kekuatan hingga jauh dibeberapa level dibawahnya. Di dunia kultivasi, terdapat berbagai teknik dan artefak dengan level yang sama yaitu level rendah, menengah, tinggi, puncak, raja, bumi, langit, surgawi.

"Aku pernah mendengar artefak tingkat puncak, dapat menyembunyikan level kekuatan seseorang hingga terlihat dua tingkat dibawahnya, dan artefak raja menyembunyikan tiga tingkat dibawahnya. Jika dia mampu menghadapiku dengan semudah ini, berapa tingkat kekuatan yang sebenarnya?" batin Gao Qian dengan cemas.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengerahkan medan energi, menekan Lynx dengan auranya yang luar biasa.

BOOM!

Tanah di sekitar mereka bergetar, dedaunan beterbangan. Bahkan pria bercadar yang berdiri di dekatnya harus sedikit mundur karena tekanan yang diciptakan Gao Qian.

Namun Lynx?

Ia tetap berdiri di tempatnya, bahkan menggerakkan bahunya seakan sedang merenggangkan tubuhnya.

"Aku harus akui, kekuatanmu cukup besar," katanya santai, lalu menghela napas ringan. "Tapi tetap tidak cukup."

Gao Qian membelalak.

Pria bercadar menyadari sesuatu hal yang tidak masuk logika sedang terjadi dihadapannya. Dia langsung bergerak. Pria bercadar mulai bersikap serius dan mengeluarkan kekuatannya sebagai master foundation perak tingkat menengah, yang sudah ditingkatkan dengan pil peningkat kekuatan saat melawan komandan Jiang, sehingga kekuatannya setara dengan tingkat akhir. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membantu Gao Qian.

Dia menyerang Lynx dengan kekuatan Qi yang terpancar melalui senjatanya, namun serangan-serangan yang dilakukannya, tetap tidak mengenai sasaran.

Keduanya kini melancarkan serangan beruntun, serangan pedang, serangan energi, bahkan serangan gabungan.

Namun hasilnya tetap sama.

Lynx masih menghindar dengan santai. Ia berputar, melompat, bahkan sesekali berjongkok hanya untuk menghindari serangan mereka dengan cara yang tampak seperti main-main.

Gao Qian mulai kehilangan akal. Wajahnya memerah, napasnya memburu.

"Dasar bocah! BERHENTI BERMAIN-MAIN!"

Lynx hanya tertawa kecil.

Setelah puas bermain-main, ia akhirnya berhenti bergerak dan menatap mereka berdua dengan tatapan datar.

"Sudah cukup pertarungan kita," katanya sambil menghela napas, lalu mengangkat satu jarinya. "Sekarang, waktunya kalian mati."

Sebelum Gao Qian bisa merespons, Lynx memfokuskan kekuatannya ke mata dan sinar laser tak kasatmata keluar dari kedua matanya.

ZAP!

Laser ditembakkan dengan kecepatan tinggi, menghantam kepala pria bercadar dalam sekejap.

Terlihat dua lubang terbakar di dahi pria tersebut seolah tertusuk tombak panas menembus kepalanya, tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya roboh ke tanah tanpa nyawa.

Gao Qian tertegun. Matanya membesar, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tidak melihat pemuda didepannya melakukan sesuatu atau gerakan yang mencurigakan, tidak ada fluktuasi energi saat menyerang, bahkan dia hanya diam memandang, dan anak buah disampingnya langsung tewas dengan luka yang sama persis dengan luka yang dialami anak buahnya yang lain.

Jantungnya berdebar kencang.

"Jadi… memang benar kau yang membunuh anak buahku…" gumamnya pelan, suaranya penuh keterkejutan.

Lynx menyeringai. "Sekarang baru sadar?" katanya dengan nada mengejek. "Sungguh lamban."

Gao Qian membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi sebelum ia bisa mengeluarkan suara—

ZAP!

Sinar laser kembali ditembakkan.

Kepala Gao Qian terlihat dua lubang terbakar, tepat seperti pria bercadar sebelumnya. Tubuhnya jatuh ke tanah, tidak lagi bernyawa.

Lynx menatap mereka berdua yang kini hanya tinggal mayat, lalu menghela napas.

"Aku sudah memberimu cukup waktu," gumamnya, sebelum berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan dua jasad yang kini tak lagi bernilai.

Lynx memutuskan untuk kembali ke tempat Komandan Jiang. Ia harus memastikan keadaan komandan itu dan melihat bagaimana situasi di sana. Namun, baru saja ia hendak bergerak, tiba-tiba sesuatu menghentikannya.

Sebuah energi halus memasuki kesadarannya—energi dari kertas formasi yang sebelumnya ia berikan kepada Jelita.

Mata Lynx menyipit.

"Jelita dalam bahaya."

Tanpa ragu, ia segera mengerahkan kekuatannya, merasakan aliran energi di sekitarnya untuk melacak posisi Jelita.

Sekejap kemudian, ia menemukannya.

Matanya melebar. Jelita sedang dibawa lari seseorang! Tubuh gadis itu diapit erat oleh dua tangan kekar, seperti kantong barang yang sedang dicuri.

Lynx tidak membuang waktu.

Dalam hitungan detik—SWOOSH!—ia sudah sampai di tempat pria itu berlari dan langsung menghadangnya.

Pria itu terhenti mendadak, terkejut karena kemunculan pemuda didepannya secara tiba-tiba tanpa disadarinya, sesuatu yang tidak masuk akal.

Lynx menatapnya tajam. Pria ini bukan sembarang orang. Ia mengenalinya sebagai salah satu bawahan terkuat Gao Qian, seorang Master Foundation Perunggu tingkat akhir!

Tatapan pria itu dipenuhi keterkejutan dan kebingungan. Setelah kehilangan Gao Qian dan wakilnya yang memiliki kekuatan Master Foundation Perunggu tingkat menengah secara mendadak tanpa diketahui penyebabnya, kelompok mereka menjadi kacau balau.

Hal ini memberi kesempatan bagi Komandan Jiang untuk bergerak.

Meski banyak prajuritnya yang tidak sadarkan diri, Komandan Jiang jauh lebih kuat dibanding para sisa anak buah Gao Qian. Dengan mudah, ia menghabisi mereka satu per satu.

Sadar situasi semakin buruk, pria bercadar yang memiliki tingkatan Master Foundation Perunggu tingkat akhir itu memilih jalan terakhir, melarikan diri saat komandan Jiang sedang bertarung dengan rekannya yang lain, seorang kultivator master foundation perunggu tingkat awal.

Dalam pelariannya, ia melihat seorang wanita muda yang luar biasa cantik, Jelita.

Senyum keji muncul di wajahnya. Dia bisa bersenang-senang bersama wanita ini sambil bersembunyi dari kejaran orang-orang yang ingin menangkapnya. Tanpa pikir panjang, ia menangkapnya dan membawanya kabur.

Jelita, yang memiliki kekuatan forging qi tingkat satu, tidak mampu melawan. Dia merasa tenaganya menghilang.

Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Dengan tenaga yang tersisa, ia merobek kertas formasi pemberian Lynx, berharap benda itu bisa berfungsi.

Dan kini, di depan matanya, pemuda yang memberi kertas itu sudah berdiri menghadang.

"Kepala suku, kamu datang." Batin Jelita merasa bahagia melihat orang yang dipikirkannya, datang menolongnya.

"Siapa kamu? Pergi dari sini jika tidak ingin mati." kata pria itu setelah mengetahui pemuda di depannya hanya forging qi tingkat satu.

Lynx menatap pria itu dingin. Ia tidak butuh banyak bicara.

Pria bercadar itu menyadari sesuatu yang aneh. Ia bisa merasakan aura forging qi tingkat pertama dari pemuda di depannya. Tidak ada tekanan berarti, dan tidak ada tanda sebuah kehadiran yang menakutkan. Tapi nalurinya berteriak bahwa ia harus lari.

Namun—

Sreet!

Pria bercadar itu membelalak. Ada sensasi aneh di dahinya.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya—

Tapi gagal.

Tubuhnya membeku di tempat, sebelum perlahan jatuh ke tanah.

Jelita yang masih berada dalam cengkeramannya ikut terjatuh.

Saat tubuh pria itu menghantam tanah, barulah terlihat dengan jelas—

Di dahinya, terdapat dua lubang kecil yang hangus terbakar, menembus hingga ke belakang kepalanya.

Hanya butuh satu serangan dari Lynx.

Tanpa perlawanan.

Tanpa suara.

Pria itu tewas dalam sekejap.

Lynx segera menghampiri Jelita, memastikan keadaannya.

Jelita yang masih gemetar menatapnya dengan mata yang dipenuhi ketakutan.

Lynx menatapnya sejenak, lalu menghela napas. "Maaf... Aku meninggalkanmu terlalu lama," ucapnya dengan suara lembut.

Jelita tidak menjawab. Ia masih terguncang. Air mata mulai mengalir di pipinya.

Lynx tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengulurkan tangannya.

"Tenang, aku akan menjagamu. Kita harus melanjutkan perjalanan."

Jelita menatapnya, lalu perlahan mengangguk. "Aku kira tidak akan melihatmu lagi," katanya sambil berusaha menahan isak tangisnya.

Lynx membantunya berdiri. "Bagaimana ceritanya kamu ditangkap olehnya?"

"Aku tidak tahu persisnya. Aku hanya mengikuti arah kertas itu seperti saranmu. Tiba-tiba saja pria itu berlari dan menangkapku. Meski sudah berusaha melepaskan diri, tapi aku tidak bisa bergerak sedikitpun ditangannya." jawab Jelita, mengingat kejadian yang sudah terjadi.

